Perampokan Truk Kontainer Gagal Karena GPS

Perampokan Truk Kontainer Gagal Karena GPS

Sejak di terbitkan berita ini pihak polda metro jaya sangat menganjurkan kepada semua pengusaha transportasi seperti kendaraan distribusi barang, angkutan barang bahkan rental mobil untuk memangsang gps tracker atau disebut alat pelacak lokasi supaya aman dari tindak kejahatan yang semakin meresahkan.

Gambar Ilustrasi
Polda Metro Jaya mengimbau perusahaan ekspedisi untuk melengkapi armada mereka baik truk maupun kontainer dengan GPS. Selain itu, perusahaan juga diminta selektif memilih sopir dan harus selalu waspada terhadap kejahatan.

Imbau ini buntut dari maraknya aksi kejahatan yang dilakukan sopir dengan modus penggelapan barang yang akan didistribusikan ke berbagai daerah.

“Sekarang marak lagi penggelapan maupun perampokan kontainer. Kami dari Polda Metro mengimbau ke perusahaan ekspedisi agar mengidentifikasi sopir di perusahaannya,” ujar Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Nico Afinta, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (29/6).

Nico menjelaskan, identifikasi sopir misalnya dengan meminta identitas KTP, Kartu Keluarga, pas foto, hingga ke foto seluruh badan dan ciri-ciri khusus dari sang sopir. Untuk pemasangan GPS Tracker, menurutnya sangat penting untuk memantau lokasi truk saat jadi sasaran aksi kejahatan.

“Kalau GPS bisa terpantau lama dan waktu jalannya. Lalu kalau terjadi tindak kejahatan juga bisa diketahui,” jelasnya.

Antisipasi lainnya, perusahaan juga diminta mengasuransikan barang-barang yang akan mereka kirimkan. Dengan begitu, perusahaan tidak menanggung sendiri kerugian jika terjadi sesuatu.

“Bisa diasuransikan juga barangnya. Jadi kalau asuransi bisa digantikan barangnya,” ungkap Nico.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah truk kontainer yang memuat barang senilai Rp 1,2 miliar dibawa kabur Mohammad Iskandar beserta dua rekannya yang kini buron. Barang yang dimuat mobil Truk Fuso B 9257 DP tersebut yakni, 119 koli Garmen, 97 koli sepatu merek Nike, 31 koli aksesoris dan 7 koli UPS.

Pelaku merupakan seorang sopir batangan yang kerap bekerja mencari order muatan barang, namun pada kenyataannya pelaku tidak mendistribusikan barang titipan perusahaan sampai ke tempat tujuan dan malah membelokkan untuk dijual dan hasilnya dibagi-bagi kepada komplotannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *